Ketika Allah lebih rindu padanya


aku pernah tinggal di solo tahun 2006-2007. tepatnya di makam haji. di sana aku belajar bahasa arab sekitar setengah tahun lebih.

satu kisah yang gak akan aku lupa. yaitu kisah seorang anak ustadzah ku yang sekaligus guru ngaji ku.

anak ini bernama Muhammad Izzatul Iman.. usia 8 tahun.

Subhanallah.. anak ini membuat aku mengerti hidup. membuat aku malu. betapa tidak. di usia yang masih kecil itu ia sudah diberi cobaan oleh Allah dengan memberinya hadiah penyakit kelainan darah. (kurang paham apa nama penyakitnya).

awalnya dokter hanya mendeteksi adanya penyakit usus buntu. dan Izza pun di operasi, dan diambil usus buntunya.

namun sepulang dari rumah sakit, bukan kesembuhan yang ia dapat. tapi, ia semakin sakit.

ternyata operasi yang telah dilakukan malah mengakibatkan, mempercepat perkembangan sel penyakit yang dideritanya.

Izza pun kembali masuk ke rumah sakit. ia dirawat.

aku sempat menyuapinya makan. sambil berbincang-bincang dan bercanda bersama ummi dan abi Izza.

aku sedih melihat selang masuk ketubuhnya. ketika ia susah makan. ia kesakitan.

Izza senang sekali membaca. tak heran kalau ia peringkat 1 dikelasnya.
buku yang ia suka adalah “eksiklopedia anak muslim” yang harga satu paket buku sangat mahal.

abi nya pun mencari buku pinjaman ke teman-temannya. setelah habis satu buku, Izza pun akan meminta seri selanjutnya.

setelah dirawat di rumah sakit cukup lama. akhirnya, Izza dirawat di rumah saja. abi dan ummi bergantian merawatnya.

hingga tiba kabar berita, ketika aku berada di kelas. salah satu ustadzah ku mengabarkan bahwa anak ustadzah ku meninggal dunia.

sontak aku kaget. otak ku berputar pada kenangan ku padanya. kenangan-kenangan ketika aku bersama teman-teman menjenguk dan bergantian menjaganya. kenangan ketika ku melihat seorang anak yang pintar dan senang sekali membaca.

bahkan ku dengar dari ummi Izza, sebelum meninggal Izza sudah menyelesaikan membaca buku Eksiklopedia Muslim yang dipinjamkan oleh kawannya semalam. ya Allah,, ia masih sempat membaca di sisa-sisa waktunya.

ku lihat ia ketika jenasahnya dimandikan. ku lihat ia begitu kurusnya karena penyakit yang mengerogotinya. ku lihat ummi, abi begitu tegarnya. Allah, aku menangis mengenang Izza. Izza yang makannya habis saat ku suapi. Izza yang tidur diatas kasur rumah sakit sambil membaca. Izza yang subhanallah.

Allah lebih rindu padanya. Allah lebih cinta padanya. hingga ia lebih cepat dipanggil. hingga disudahkan penyakit yang menyiksanya.

“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya.

Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit.

Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).”
(HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)

“Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana”
Alm. Muhammad Izzatul Iman, semoga anak ku seperti engkau kelak.
(hingga aku bercita-cita memberi nama anak ku Izza, jika kelak laki-laki)

(maafkan aku, ummi n abi jika ada kekurangan dlm kisah ini)

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. D3pd
    Agu 31, 2010 @ 14:56:40

    Indahnya….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: